Dreamlike

Ini adalah hari ketiga saya masuk kerja lagi setelah pekan kemarin saya meminta izin cuti ke untuk pergi ke Jogja. Ngga full satu minggu sih, tapi ya cukup lama. Tiga dari lima hari kerja. Hehe..

Yap, pekan terakhir bulan Juli lalu saya pergi ke Jogja untuk pelantikan sumpah dokter. Ini wisuda kedua saya setelah 2 tahun sebelumnya saya diwisuda untuk gelar sarjana kedokteran. Sekarang title S.Ked di belakang nama saya sudah tidak ada. Title-nya pindah kedepan, berubah menjadi dr. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tidak pernah ada dalam list cita-cita saya sejak SD hingga akhir SMA. But the title is real now.

Serius loh. Meskipun dalam lagunya Susan bilang kalau sudah besar mau jadi dokter supaya bisa njus-njus orang, saya sama sekali tidak terpengaruh keinginan Susan. Biarlah Susan dan anak-anak lainnya ingin menjadi dokter. Saya hanya ingin menjadi guru seperti kedua orang tua saya. Atau psikolog.

Terus, kenapa akhirnya masuk kedokteran? Well, it's kinda looong story so i won't talk about it now.

Karena satu dan lain hal alasan, saya tidak bisa berlama-lama berada di Jogja. Saya berangkat dari Jakarta dan sampai di Jogja Selasa malam, lalu kembali lagi ke Jakarta Kamis malam. Kurang lebih saya hanya menghabiskan 2 hari saya di Jogja. Hari pertama untuk pembekalan dan gladi bersih sumpah dokter. Hari kedua untuk acara sumpah dokternya.

Dua hari yang terasa sangat singkat karena saya tidak bisa bertemu dengan banyak orang yang ingin saya temui. Dua hari yang terasa sangat padat dan melelahkan, namun menyenangkan. Dua hari yang terasa seperti mimpi. Sangat cepat, penuh cerita, sangat menyenangkan, sangat mengesankan, namun tiba-tiba harus selesai ketika saya belum ingin terbangun, karena harus kembali ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, saya kembali dihadapkan dengan sederet aktivitas lain yang harus ditunaikan.

Tidak terasa sudah 6 tahun saya di Jogja. Dari 18 hingga menuju 24. Ternyata 6 tahun itu sangat cepat, ya? Tiba-tiba, saya sudah harus di Jakarta lagi, bersama dengan segala keriuhannya. Tiba-tiba juga saya bukan anak kos lagi yang bisa pulang dan pergi sesuka hati, tapi anak rumahan yang selalu ditanya kapan pulang dan ditelpon tiada henti kalau tidak ada kabar. 6 tahun yang ketika di jalani terasa lamaa sekali, ternyata setelah dilewati malah sangat saya rindukan. Benar juga rupaya kata Adhitia Sofyan, memang ada sesuatu di Jogja.

Karena sekarang saya sudah bukan penghuni Jogja lagi, Jogja jadi terasa seperti mimpi untuk saya. Keramahannya terhadap pendatang. Makanan di sepanjang jalan Pandega. Kebun Binatang Gembira Loka. Pantai Depok dan warung seafood Mba Tur yang menu saus padangnya endeus banget. Dan pastinya pejuang-pejuang tangguh dengan langkahnya masing-masing dalam menjalani kehidupan menuju cita-cita, orang-orang yang sangat berarti bagi saya yang saat ini masih melanjutkan perjuangan di Jogja. Sedih rasanya bila memikirkan bahwa sekarang saya adalah tamu untuk Jogja, bukan lagi tuan rumah seperti dulu.

Dua hari yang semuanya terasa seperti mimpi. Sudah menjadi dokter, terasa seperti mimpi. Bisa berkumpul terakhir kali bersama teman-teman Perpustakaan setelah gladi bersih dan mendapat hadiah buku-buku yang sangat luar biasa dari mas Dalton dan perpus, terasa seperti mimpi. Foto bersama BQ (rumah kontrakan saya selama di Jogja) dan kawan-kawan, terasa seperti mimpi. Melihat Qiya (ponakan saya yang sangat gemash) sudah bisa banyak ngobrol dengan orang lain, terasa seperti mimpi. Di antar ke  pintu stasiun oleh dua orang adik binaan yang sangat saya sayangi, terasa seperti mimpi. Semuanya, semuanya, terasa seperti mimpi. Yang kalau bisa, nanti saja bangunnya. Nanti saja setelah saya merasa puas bersenang-senang bersama semuanya.

Tapi hidup adalah hidup, dan mimpi adalah mimpi. Kalau kata salah satu pengurus Perpustakaan Baitul Hikmah, Mas Isnan, Syaikh 'Aid Al Qarni dalam bukunya La Tahzan menulis bahwa ada dua hal yang paling rawan menggelincirkan manusia ke dalam dosa. Yang pertama adalah terlalu bersedih tentang masa lalu kita. Yang kedua adalah terlalu khawatir dengan masa depan. Kesedihan berlebihan terhadap masa lalu dan kekhawatiran berlebihan kita terhadap masa depan membuat kita lupa bahwa hidup kita adalah hari ini. Sehingga, seharusnya, hari ini lah yang menjadi fokus kita : bagaimana hari ini bisa terlewati dengan optimal, dengan sebaik-baik upaya yang dapat kita lakukan.

Well, Jogja adalah mimpi. Jakarta adalah kenyataan. Untuk saya saat ini. Tapi dari keduanya saya banyak belajar. Dari keduanya saya menjadi saya saat ini. Dan masih ada banyaak sekali rencana-rencana Allah atas saya yang tidak saya ketahui, yang pastinya juga, seperti mimpi, yang harus saya jemput dan saya jalani. Dengan title baru ini tentunya bertambah satu amanah baru di pundak saya. Dan tentunya, harus bertambah juga wujud rasa syukur terhadap begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya. Ingat ini, ya, Nisa Karima.

Dan semoga, Allah selalu lindungi dan berkahi pejuang-pejuang mimpi, kawan-kawan dan semuaaa orang yang saya sayangi yang masih berada di Jogja. Semoga kita bisa bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik lagi :")

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hurtful Words

always be my BQ

Jangan hilang makna, nisakarima....