Postingan

Anak Penyu

Gambar
Gambar dari sini Entah kapan gitu, saya pernah nonton video di youtube, di channelnya Natgeo atau BBC tentang perjalanan anak penyu yang baru saja menetas dari telurnya. Jadi ceritanya, setelah lama ibu penyu mengarungi samudra yang sangat luas, dia akan kembali ke pantai dimana dia dilahirkan. Kemudian di sana dia akan menggali lubang dan meletakkan telur-telurnya. Kemudian pergi melaut kembali dan meninggalkan telur-telur itu di sana seorang diri. Ya ngga seorang diri banget juga sih karena kan penyu sekali bertelur banyak banget, yak. But, yeah, you know what i mean. Anak-anak penyu yang ada di dalam telur itu sama sekali ngga tahu cerita apa yang sudah menanti mereka di luar lubang sana. Mereka ngga tahu kalau lubangnya cukup dalam jadi mereka butuh effort yang besar untuk keluar. Mereka masih menyibukkan dirinya dengan bertumbuh, menyerap semua nutrisi yang tersedia dalam telurnya, sambil menunggu waktunya menetas 45 hari lagi. Mereka juga ngga tahu kalau jarak l...

Review Ala-ala : Wisata Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal (Part 1)

Sebenernya udah jam 23.45 dan harusnya tidur, tapi rasanya sayang gitu kalau ngga posting soal trip sendirian hari ini. Kalau di postingan sebelumnya saya nulis tentang perasaan saya, di postingan yang ini saya review perjalanan dan tempat wisata yang saya datangi tadi pagi. Saya berangkat ke Guci sekitar jam 8.00. Sama siapa lagi kalau bukan sama Romi, motor Supra Fit berusia 12 tahun yang setia banget nemenin saya kemana-mana. Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan jauh dengan medan agak ekstrem selama di Slawi. Terakhir kali ngajak Romi jalan-jalan agak ekstrem gini waktu KKN di Gunung Kidul. Untuk perjalanannya sendiri kurang lebih memakan waktu 45-60 menit, tergantung kecepatan dan kepadatan jalan. Alhamdulillah sih tadi pas saya berangkat jalan masih belum terlalu padat jadi bisa agak cepet sedikit. Untuk medannya sendiri, jalan menuju Objek Wisata Guci ini alhamdulillah sudah aspal semua. Lubang-lubang sedikit di beberapa ruas jalan rasanya sudah biasa ya, jadi ...

Ceritanya Jalan Jalan Sendiri

Gambar
Halan-halan ke sini akhirnya... Hari ini libur. Alhamdulillah... Pengennya si pulang ke Jakarta atau ke Jogja gitu tapi ya apa daya belum gajian. Wkwk nasib. Akhirnya jalan-jalan sendirian ke Guci. Dari beberapa waktu kemaren feel homesick dan penat banget sama pikiran-pikiran yang berlebihan. Seperti yang saya post di postingan sebelumnya, anak pertama memang kayanya cenderung punya rasa khawatir lebih besar terhadap banyak hal, ini saya lihat dari beberapa teman yang lain juga. Penat ini mungkin efek ngga ada temen ngobrol juga kali ya. Setiap orang kayanya punya masa dimana dia ingin cerita dan cukup didengarkan. Atau ingin dikasih ucapan "semangat, ya!", atau dikirimin chat tiba-tiba yang tulisannya, "you're doing great, girl!", atau ungkapan-ungkapan sayang lainnya. Karena kadang-kadang, kita tau sih mungkin seseorang itu sayang sama kita, but sometimes, we just need a little proof of that so we feel save and loved again.  Masalahnya adal...

Anak Perempuan Pertama

Nampaknya anak perempuan pertama diciptakan dengan kemampuan merasa lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak selanjutnya. Setiap tatapan mata dipahaminya sebagai sebuah cerita. Mereka mengerti resah, kesah, dan lelah yang orang lain rasa tanpa perlu panjang berbicara. Nampaknya anak perempuan pertama dikaruniai telinga yang lebih sabar mendengar. Saat ibunya bercerita mengenai kisah yang sama berulang kali, hanya dalam hati ia berkata, “lagi, dan lagi.” Hatinya sabar mendengarkan, meski lisannya tidak banyak menanggapi. Mereka memahami betul terkadang ibunya hanya rindu didengarkan, kesempatan yang akhir-akhir ini menjadi langka untuk didapatkan. Nampaknya juga, anak perempuan pertama punya air mata yang lebih banyak dari anak-anak selanjutnya. Saat bahagia mereka menangis. Saat resah mereka menangis. Saat rindu mereka menangis. Air mata menjadi tempat ia bercerita. Menjadi anak perempuan pertama harus kuat hatinya. Pada hatinya lah orang tua seringkali merasa pulang. ...

(Mulai Hidup) Sehat - Menyehatkan

"Health is a state of complete physical, mental, and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity." Postingan ini jadi terasa kaya skripsi karena dibuka dengan defini sehat menurut WHO di atas, ya, ahaha. Tapi ngga papa, semoga sama-sama kita bisa memahami pengertian sehat tersebut, ya, bahwa sehat itu bukan cuma sekadar terbebas dari penyakit a.k.a ngga punya sakit apa-apa atau tes lab hasilnya baik semua, tapi juga harus sehat secara mental dan kehidupan sosial. Dalam dunia kedokteran khususnya dalam kedokteran keluarga, dikenal juga istilah bahwa manusia ini adalah makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang menuut saya lebih lengkap lagi memandang seorang individu manusia karena ada unsur spiritualnya. Atau kalau saya terjemahkan ke dalam bahasa sendiri, sehat secara ruhiyah. Jadi, kalau berdasarkan preambule di atas, mungkin ngga banyak ya manusia yang benar-benar sehat 100%. Penyakit-penyakit tidak menular angkanya semakin meningkat dan mulai...

Oi Oi

Ini tulisan random yang saya tulis malam-malam sebelum tidur saja. Judulnya saja ngga mutu.  Hahaha... agak-agaknya kurang berfaedah so if you have another thing to do, just do what you have to do instead of reading this. Dalam waktu beberapa menit setelah tulisan ini di post, hari akan berganti menjadi Senin terakhir di tahun 2018. MaasyaaAllah sudah mau selesai saja ya 2018. Rasanya cepat sekali, tiba-tiba sudah mau 2019. Hmm apakah ini tanda berkurangnya keberkahan waktu saya? Hiks hiks. Yang pasti, dunia semakin menua dan mendekati akhirnya. Agaknya, setelah banyak bencana yang menimpa manusia di tahun 2018 ini, kalau kita (saya) masih belum juga memikirkan tentang kematian lebih banyak kok ya gimanaaa gitu ya rasanya. Kayak orang yang ngga tahu diri saja gitu. Huhuhu... Duh jadi takut (kena penyakit umat akhir zaman nih : takut mati). Tapiii... bukan takut karena nanti ngga bersama dunia lagi, tapi takut masuk neraka. Huhuhu... Lemah sekali iman saya ya motivasi ngapa-ng...

Kepada Orang Tua : Menuju 25

"Andai, aku tlah dewasa... apa yang kan kukatakan untukmu idolaku tersayang..." Sering banget ngga sih kita dengar dan nyanyikan lagu ini dulu pas zaman-zamannya film Petualangan Sherina lagi hits. Sampai saat ini lagu ini masih menjadi favorit saya. Tapi kalau menyanyikan lagu ini sekarang, di usia yang hampir 25, kok rasanya beda ya... Karena 'andai' yang menjadi kata pembuka lagu ini sudah menjadi kenyataan, bukan pada part apa yang akan dikatakannya, tapi pada kata 'dewasa'... ~ Kemarin Kamis, saya diminta bertugas untuk jaga poli umum tambahan karena kalau musim liburan gini biasanya pasien banyak sekali. Karena poli tempat saya jaga ini tidak mikrofonnya, jadi setiap memanggil pasien saya harus keluar pintu dan meneriakkan nama pasien selanjutnya. Setelah beberapa pasien berlalu, tibalah saya memanggil pasien yang membuat saya tergelitik untuk menulis postingan ini. Sebut saja bapak K. Di rekam medis usianya ditulis 85 tahun. Perawakann...

Kinda Miss My Job

Ini malam kedua saya di kos baru. For the very first time in my life, i have my own bedroom. Percaya ngga percaya, selama hampir 25 tahun ini, saya ngga pernah tidur sendirian loh. Well, pernah si tidur sendirian, kalau ditinggal jaga sama Dhilah (my pillow talk mate for years through ups and downs) atau kalau Dhilah lagi ke luar kota. But i never been alone like home alone. Di kamar, saya sendirian. Tapi di kamar sebelah saya ada Nida dan Tyani. Kamar seberang saya ada Nila dan Nisa. Yah namanya juga koas, pasti berrotasi lah ya yang ada di rumah siapa saja. Kalau saya bosan di kamar, saya tinggal keluar main ke kamar siapa buat ngobrol hal-hal mulai dari yang nirfaedah sampai yang sangat berfaedah. Wkwkwk. Yang saya maksud 'sendirian' di sini adalah ngga ada space lain yang bisa saya mencloki selain kamar sendiri dan ngga ada orang yang bisa dimencloki juga. I don't like this kind of atmosphere :"( Yasudah disabari saja, Nis. Pasti ada hikmahnya. Hikmah pertama...

Dreamlike

Ini adalah hari ketiga saya masuk kerja lagi setelah pekan kemarin saya meminta izin cuti ke untuk pergi ke Jogja. Ngga full satu minggu sih, tapi ya cukup lama. Tiga dari lima hari kerja. Hehe.. Yap, pekan terakhir bulan Juli lalu saya pergi ke Jogja untuk pelantikan sumpah dokter. Ini wisuda kedua saya setelah 2 tahun sebelumnya saya diwisuda untuk gelar sarjana kedokteran. Sekarang title S.Ked di belakang nama saya sudah tidak ada. Title-nya pindah kedepan, berubah menjadi dr. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tidak pernah ada dalam list cita-cita saya sejak SD hingga akhir SMA. But the title is real now. Serius loh. Meskipun dalam lagunya Susan bilang kalau sudah besar mau jadi dokter supaya bisa njus-njus orang, saya sama sekali tidak terpengaruh keinginan Susan. Biarlah Susan dan anak-anak lainnya ingin menjadi dokter. Saya hanya ingin menjadi guru seperti kedua orang tua saya. Atau psikolog. Terus, kenapa akhirnya masuk kedokteran? Well, it...

Seperti Orang Jakarta

Gambar
Jadi ceritanya (eh kenyataannya deng ya? Wkwk), saya kembali ke Jakarta setelah 6 tahun menjadi penghuni Yogyakarta dengan status mahasiswa. Dan kembali ke Jakarta untuk menjadi penghuninya lagi rasanya... jet lag. Kalem-kalem gini (?), saya termasuk anak kelayapan, juga anak jajan. Waktu di Jogja, ada banyak teman yang bisa saya ajak ngobrol macem-macem, saya ajak main, saya ajak makan, saya curhatin ini-itu, kumpul-kumpul, dan juga ngajak saya kemana-mana. Kalau lapar, pilihan makanannya ada banyak. Ayam preksu, lotek pandega, mang kobis dengan minyak kaya rasanya, bale bebakaran, roti bakar depan gading mas (sekarang di belakang dunkin), capcay deket NB, somay kang cepot, dan sebagainya. Hayooo jadi mau kan? Wkwkwk. Kalau di Jakarta, ibu negara sudah masak di rumah. Dan sebagai anak yang berbakti, masa mamak sudah masak cape-cape kita makan belinya soto mie, yekan? Sebenarnya, ada banyak teman dari jogja yang merantau atau pulang ke Jakarta juga sih, tapi kebanyakan punya kes...